Sabtu, 12 Agustus 2023

JEJAK LITERASI DI INDONESIA DARI MASA KE MASA


Literasi, terutama dalam makna kemampuan membaca dan menulis, telah menjadi fondasi penting dalam perkembangan manusia dan masyarakat sepanjang sejarah. Sejak munculnya sistem tulisan untuk pertama kalinya, literasi telah mengalami perjalanan panjang yang mencakup berbagai peradaban dan perubahan sosial.

Artikel ini akan mengulas perjalanan sejarah literasi di Indonesia yang sebetulnya merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah literasi dunia. Karenanya, mengkaji sejarah literasi Indonesia akan menjadi sempurna jika diawali dengan mengulas terlebih dahulu sejarah literasi dunia.

Sebetulnya, jejak literasi di Indonesia mencerminkan dinamika budaya, sejarah, dan perkembangan sosial di Nusantara. Dari masa pra-tulisan hingga era digital, literasi telah menjadi fondasi penting dalam memajukan masyarakat dan mempertahankan warisan budaya Indonesia. Dengan upaya yang berkelanjutan, literasi akan terus menjadi komponen kunci dalam membentuk masa depan yang lebih cerah bagi bangsa Indonesia.

Mungkin Anda tertarik membaca: Dampak Teori Relativitas Einstein

 

SEJARAH AWAL LITERASI: DARI ERA PRA-TULISAN HINGGA ERA DIGITAL
Sebelum perkembangan sistem tulisan, manusia mengandalkan lisan untuk mentransmisikan pengetahuan dan cerita dari satu generasi ke generasi lainnya. Melalui tradisi lisan inilah, berbagai tradisi, mitos, dan pengetahuan praktis disampaikan secara verbal. Namun, seiring waktu, masyarakat mulai mencari cara yang lebih praktis untuk merekam informasi agar lebih permanen.

Kemunculan sistem tulisan menjadi titik balik dalam sejarah literasi. Sejauh dapat dilacak, peradaban Mesir Kuno, Sumeria, dan Mesopotamia mengembangkan bentuk tulisan awal menggunakan simbol-simbol untuk merepresentasikan objek dan konsep. Pada perkembangan selanjutnya, sistem tulisan ini menjadi dasar bagi perkembangan alfabet yang lebih kompleks hingga masa kini.

Peradaban klasik seperti Yunani Kuno dan Romawi Kuno memiliki literasi yang berkembang pesat. Di Athena, pendidikan sangat ditekankan dan banyak warga kota yang memperoleh kemampuan membaca dan menulis. Sementara di Roma, literasi diperlukan untuk urusan-urusan yang lebih formal, yakni untuk kepentingan administrasi dan pemerintahan.

Pada Abad Pertengahan, literasi masih menjadi barang mewah. Itu sebabnya literasi pada periode ini terbatas pada kalangan rohaniwan dan elit. Namun, dengan penyebaran agama-agama besar seperti Kristen dan Islam, aksara dan literasi mulai menjangkau lebih banyak orang melalui ajaran agama dan lembaga pendidikan.

Abad ke-15 menjadi tonggak penting perkembangan literasi dunia. Pada era ini Johannes Gutenberg berhasil menciptakan mesin cetak bergerak yang memungkinkan produksi buku secara massal. Ini kemudian membuka akses lebih luas ke literasi dan pengetahuan, sekaligus merangsang berbagai inovasi intelektual di masa berikutnya.

Pada abad ke-19 dan ke-20, gerakan pendidikan universal dan wajib belajar mulai menyebar di berbagai negara. Pendidikan menjadi hak dasar yang diakui, dan literasi dengan sendirinya menjadi prioritas guna mendukung pembangunan sosial dan ekonomi.

Sementara dengan munculnya teknologi digital pada akhir abad ke-20, literasi berkembang dalam konteks yang lebih luas. Selain kemampuan membaca dan menulis, literasi digital juga mencakup keterampilan dalam penggunaan teknologi komunikasi dan informasi. Akses ke internet dan media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan informasi dan keterampilan membaca pun ikut beradaptasi.

Meskipun tingkat literasi telah meningkat secara global, masih ada tantangan yang perlu diatasi, terutama di wilayah-wilayah yang kurang berkembang. Ketidaksetaraan gender, kurangnya akses pendidikan, dan perubahan dalam konsumsi informasi menjadi isu-isu yang relevan.

Sejarah literasi menggambarkan evolusi manusia dalam mentransmisikan pengetahuan dan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari zaman lisan hingga era digital, literasi terus mengalami perkembangan yang signifikan, memainkan peran penting dalam pembentukan masyarakat dan perkembangan manusia.

Baca juga ulasan buku: Mindset Carol S. Dweck
 

SEJARAH LITERASI DI INDONESIA DARI MASA KE MASA
Sejarah literasi di Indonesia memiliki akar yang dalam dan kaya, meliputi perjalanan panjang dari masa pra-tulisan hingga revolusi teknologi informasi. Literasi, utamanya dalam makna kemampuan membaca dan menulis, telah memainkan peran penting dalam perkembangan budaya, pengetahuan, dan masyarakat di Nusantara.

Sebelum kedatangan sistem tulisan, masyarakat di Nusantara mengandalkan tradisi lisan dalam mentransmisikan pengetahuan, cerita rakyat, dan nilai-nilai budaya. Leluhur bangsa Indonesia menggunakan lisan untuk meneruskan mitos, legenda, dan pengetahuan praktis melalui generasi-generasi.

Pada abad ke-4 hingga ke-14 Masehi, Nusantara dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha dari India. Aksara Sanskerta diperkenalkan, dan kegiatan literasi mulai berkembang di kalangan rohaniwan dan elit. Prasasti-prasasti dan manuskrip menggambarkan catatan sejarah, agama, dan sastra pada masa ini.

Dalam perkembangan berikutnya, aksara Kawi, yang merupakan varian dari aksara Pallawa, digunakan untuk menulis naskah-naskah kuno seperti kakawin dan prasasti. Naskah-naskah ini menjadi bukti penting tentang kebudayaan dan bahasa yang berkembang di Nusantara.

Sementara pada masa kolonial, terutama saat pemerintahan Belanda, literasi mulai menyebar lebih luas melalui pendidikan yang diberikan oleh lembaga-lembaga gereja dan sekolah-sekolah Belanda. Hanya saja, pendidikan dan literasi pada masa ini terutama sekali ditekankan bagi kaum elit pribumi. Sementara bagi kaum proletar literasi masih menjadi mimpi manis yang tidak dapat digapai.

Pada awal abad ke-20, literasi memainkan peran penting dalam gerakan kebangkitan nasional. Pemimpin-pemimpin seperti Soekarno dan Hatta menggunakan tulisan sebagai alat untuk menyebarkan gagasan dan semangat nasionalisme. Kelak kita mengenal beberapa buku Karya Soekarno, seperti Di Bawah Jendela Revolusi Jilid 1 & 2; Indonesia Menggugat; Lahirnya Pancasila; dan Pancasila Sebagai Dasar Negara. Dari tangan Hatta sendiri lahir setidaknya 10 buku, di antaranya Keadilan Sosial dan Kemakmuran; Kebangsaan dan Kerakyatan; Perdamaian Dunia dan Keadilan Sosial; Kemerdekaan dan Demokrasi; dan agaknya yang cukup dikenang adalah buku Gearakan Koperasi dan Perekonomian Rakyat.

Pasca kemerdekaan literasi terus digalakkan. Bahkan pada periode ini, literasi menjadi fokus utama dalam pembangunan nasional. Program-program pendidikan nasional diimplementasikan untuk meningkatkan tingkat literasi di seluruh negeri, dengan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi bersama yang disepakati.

Memasuki era revolusi industri 5.0 literasi semakin berkembang sangat pesat. Dengan perkembangan teknologi informasi, era digital membawa perubahan besar dalam literasi di Indonesia. Internet, media sosial, dan teknologi komunikasi telah mengubah cara orang berinteraksi dengan informasi. Sementara literasi digital menjadi semakin penting, tantangan seperti ketidaksetaraan akses dan kebenaran informasi juga muncul.

Pada era ini kita mengenal suatu istilah yang disebut literasi digital. Dalam bidang teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi, literasi digital kerap dikaitkan dengan kemampuan penggunanya.

Devri Suherdi melalui buku “Peran Literasi Digital di Masa Pandemik” mengartikan literasi digital sebagai pengetahuan dan kecakapan pengguna dalam memanfaatkan berbagai media digital, seperti misalnya alat komunikasi, jaringan internet dan sebagainya. Kecakapan pengguna dalam literasi digital ini mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat, termasuk juga memanfaatkannya dengan cerdas, bijak, cermat serta tepat sesuai dengan kegunaannya.

Pada 2022 Indeks literasi digital Indonesia mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal itu tampak dari hasil survei Status Literasi Digital Indonesia 2022 yang dilakukan oleh Kementerian Kominfo dan Katadata Insight Center (KIC).

Pada 2020 Indonesia memperoleh skor 3,46 poin, kemudian pada tahun 2021 naik menjadi 3,49 poin (naik 0,03 poin) dan pada tahun 2022 naik lagi sebesar 0,05 poin dari 3,49 pada tahun sebelumnya menjadi 3,54 poin.

Skor tersebut mengisyaratkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia berada pada kategori sedang. Pengukuran ini dilakukan menggunakan empat pilar dasar, yakni keamanan digital (digital safety), kecakapan digital (digital skills), etika digital (digital ethics), dan budaya digital (digital culture).

Dari empat pilar tersebut, terdapat tiga pilar yang mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, yaitu pilar digital skill (dari 3,44 naik menjadi 3,52), pilar digital ethics (dari 3,53 naik menjadi 3,68), dan pilar digital safety (dari 3,10 naik menjadi 3,12). Sementara pilar digital culture mengalami penurunan dari 3,90 menjadi 3,84.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

neracabuku.blogspot.com