Rabu, 09 Agustus 2023

REVIEW BUKU SELF THEORIES CAROL S. DWECK, PH.D.

 

Deskripsi Buku

Self Theories sebetulnya bukanlah buku baru. Edisi Bahasa Inggrisnya saja telah diterbitkan pertama kali pada tahun 2000. Judul yang dipilih adalah Self Theories: Their Role in Motivation, Personality, and Development (Essays in Social Psychology). Baru kemudian masuk ke Indonesia kurang lebih 20 tahun kemudian. BACA, salah satu penerbit tanah air pada Februari 2020 menerbitkan buku dimaksud untuk pertama kalinya dengan judul Self Theories: Wawasan Psikologi Terbaru tentang Motivasi, Kepribadian, dan Pengembangan Diri. Buku setebal 346 halaman ini pernah dinobatkan sebagai Book of the Year oleh World Education Fellowship. Sayangnya, di Indonesia sendiri buku ini belum mendapatkan tempat yang memadai. Padahal buku ini punya cara pandang progresif dalam memahami kecerdasan dan segala hal yang berkaitan dengannya.

Tonton juga: Teori Dasar Self Theories 

Tentang Penulis

Buku Self Theories merupakan karya terbaik Prof. Carol S. Dweck, Ph.D. Wanita kelahiran 17 Oktober 1946 ini dikenal sebagai peneliti kelas dunia dengan kekhususan pada bidang kepribadian, psikologi perkembangan, dan psikologi sosial. Ia tercatat pernah menjadi guru besar psikologi di Universitas Columbia, Universitas Harvard, dan Universitas Illinois sebelum akhirnya memilih berkarir di Universitas Stanford pada 2004. Ia juga termasuk salah seorang anggota dari National Academy of Sciences dan American Academy of Art and Sciences.

Dweck menerima banyak penghargaan bergengsi berkat penelitian-penelitian dan buku-bukunya. Buku Self Theories: Their Role in Motivation, Personality, and Development (Essays in Social Psychology) telah dinobatkan sebagai Book of the Year oleh World Education Fellowship. Sementara Mindset, karya lainnya, terjual jutaan eksemplar di seluruh dunia serta direkomendasikan sebagai bacaan bergizi oleh banyak tokoh penting, baik level dunia maupun tokoh nasional. Sekedar menyebut nama ada Bill Gates, Malcomm Gladwell, Robert J. Sternberg dan di tanah air ada Rhenald Kasali. Yang disebutkan terakhir ini bahkan rela memberikan kata pengantar untuk buku Mindset.

Tulisan-tulisan inspiratifnya banyak dimuat di media terkemuka, semisal Time, The New Yorker, The New York Times, The Boston Globe, dan The Washington Post. 

Sinopsis Self Theories

Self Theories adalah buku psikologi, lebih spesifik lagi self improvement, yang didasarkan pada serangkaian riset mengenai motivasi dan pencapaian yang dilakukan oleh Dweck dan rekan-rekannya. Tidak tanggung-tanggung, riset ini dilakukan dalam skala waktu yang cukup panjang, kurang lebih selama 30 tahun dengan melibatkan ribuan murid (secara agregat), mulai dari murid pra sekolah hingga mahasiswa perguruan tinggi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang yang beragam, dari kota-kota kecil maupun kota-kota besar, serta mewakili berbagai kelompok dan etnis.

Hasil riset yang tertuang dalam buku ini dipicu rasa trenyuh Penulis atas satu fenomena, di mana terdapat orang-orang yang memiliki pencapaian yang luar biasa, terutama dalam bidang akademik padahal mereka berada dalam set situasi yang sangat sulit. Di pihak lain, ada orang-orang yang sebetulnya punya potensi dan keistimewaan tertentu namun justru menyia-nyiakan kesempatan.

Baca juga ulasan karya Dweck lainnya: Mindset
 

Pola Ketidakberdayaan & Pola Orientasi-Penguasaan

Banyak pelajar yang paling berprestasi cenderung menghindari tantangan dan hancur ketika berhadapan dengan tantangan dan hambatan. Sebaliknya, terdapat banyak pelajar dengan prestasi yang lebih rendah malah menghadapi rintangan dengan riang gembira dan bahkan bersemangat dengan rintangan itu.

Begitu juga saat gagal dalam sebuah tugas terjadi. Pelajar yang paling berprestasi sangat mudah mempertanyakan dan mengutuk kecerdasan mereka sendiri. Sementara bagi pelajar dengan prestasi yang lebih rendah, jangankan mengutuk kecerdasan mereka, terbersit pikiran buruk seperti itu saja tidak pernah.

Dweck menggunakan istilah tak berdaya atau ketidakberdayaan untuk menggambarkan pandangan beberapa pelajar terhadap kegagalan, yakni pandangan bahwa seandainya terjadi kegagalan, mereka berpikir situasi berada di luar kendali mereka, karenanya tidak ada yang bisa mereka kerjakan. Respon ketidakberdayaan ini mencakup semua reaksi yang ditunjukkan pelajar saat menghadapi kegagalan, seperti: kritik atas kecerdasan mereka, ekspektasi yang turun secara drastis, berbagai emosi negatif, menurunnya kegigihan, dan termasuk juga kinerja yang memburuk.

Baca juga ulasan: Filosofi Teras 

Pelajar dengan pola ketidakberdayaan sangat cepat mengeluhkan kecerdasan mereka saat mengalami kegagalan. Mereka sangat mudah mengucapkan hal-hal seperti “kayaknya saya tidak terlalu cerdas,” “ingatan saya tidak pernah kuat,” dan “saya tidak ahli dalam hal-hal seperti ini.”

Padahal baru beberapa saat sebelumnya mereka mengalami serangkaian kesuksesan demi kesuksesan tanpa jeda. Kecerdasan dan ingatan mereka juga sangat baik. Kecuali itu, selama mengalami kesuksesan, kinerja mereka sama baiknya dengan kelompok yang berorientasi-penguasaan. Namun sesaat kemudian, setelah mereka dihadapkan dengan soal-soal yang sulit, mereka segera kehilangan keyakinan akan kecerdasan mereka.

Sementara istilah orientasi-penguasaan digunakan untuk menyebut setiap respon siswa yang gigih terhadap kegagalan karena mereka tetap berkonsentrasi untuk menguasai materi meskipun mengalami kegagalan demi kegagalan. Mereka tidak menyalahkan apa pun saat gagal. Mereka tidak berfokus pada alasan-alasan kegagalan. Bahkan mereka sepertinya tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya gagal.

Para pelajar dengan pola orientasi-penguasaan mulai memberikan instruksi-instruksi motivasi pada diri mereka (self theory) mengenai cara meningkatkan pekerjaan mereka seperti ucapan “semakin sulit masalah ini, maka semakin keras saya harus berusaha” atau “saya harus lebih tenang dan mencoba memikirkannya lebih serius lagi.” 

Kecerdasan Entitas dan Kecerdasan Inkremental

Istilah lain yang kerap disebut dalam buku Self Theories adalah entitas dan inkremental. Kedua istilah tersebut terkadang dipakai untuk mengidentifikasi jenis kecerdasan siswa, terkadang juga untuk menyebut dua jenis teori kecerdasan. Dari sini melahirkan apa yang disebut siswa teori entitas dan siswa teori inkremental dan pada lain sisi juga muncul istilah teori entitas dan teori inkremental. Keduanya saling berkait sebetulnya. Siswa yang percaya pada teori kecerdasan entitas disebut siswa teori entitas dan siswa yang percaya pada kecerdasan inkremental disebut siswa teori inkremental.

Dalam teori entitas, kecerdasan diasumsikan bersifat tetap, kongkrit, dan sekaligus merupakan entitas internal. Adapun dalam teori inkremental, kecerdasan dipandang lebih merupakan kualitas dinamis yang dapat ditingkatkan sepanjang waktu.

Baca juga ulasan: Atomic Habits  

Teori entitas yang mengasumsikan kecerdasan bersifat tetap, harus membuat para siswa peduli untuk selalu menunjukkan bahwa mereka memang cerdas, sehingga menciptakan tujuan kerja. Teori inkremetal yang mengasumsikan kecerdasan dapat berubah, harus membuat siswa peduli untuk semakin pintar sehingga dapat menciptakan tujuan pembelajaran.

Dalam serangkaian riset yang dilakukan oleh Dweck yang tertuang dalam buku Self Theories ini diungkap satu hubungan yang jelas dan signifikan antara teori kecerdasan murid dan pilihan tujuan mereka. Semakin para siswa mempercayai teori kecerdasan entitas, maka semakin besar pula kemungkinan mereka untuk memilih tujuan kinerja. Di lain pihak, semakin para siswa mempercayai teori inkremental, maka semakin besar pula kemungkinan mereka untuk milih tujuan pembelajaran.

Jadi, teori kecerdasan yang dianut para siswa menggambarkan apakah mereka termasuk siswa yang berorientasi pada pembelajaran dan tantangan ataukah terhadap nilai dan kinerja.

Namun masalahnya, siswa teori entitas cenderung menghindari tantangan dan benci pada kegagalan. Sebaliknya, siswa teori inkremental lebih menyukai tantangan dan mereka menganggap kegagalan sebagai suatu yang biasa-biasa saja. Dengan kata lain, kegagalan dan tantangan memiliki arti dan efek yang berbeda bagi keduanya.

Dalam kerangka kerja teori entitas, kegagalan dipersonifikasikan sebagai kecerdasan yang rendah. Sementara dalam kerangka kerja teori inkremental dipersonifikasikan sebagai sebuah isyarat untuk mencoba sesuatu yang baru.

Upaya juga memiliki arti yang berbeda bagi keduanya. Dalam kerangka kerja teori entitas, upaya dipandang sebagai nilai kecerdasan, karenanya kegagalan juga berarti kecerdasan yang rendah. Itu sebabnya, mereka cenderung menghindari upaya karena hal itu memberi pesan negatif mengenai kemampuan mereka. Sementara dalam kerangka kerja teori inkremental, upaya dipandang dapat memicu kecerdasan manusia dan membuat mereka bisa memanfaatkannya secara optimal. Oleh karenanya, mereka memandang upaya sebagai kunci utama menuju pencapaian dan harga diri.

Untuk itu, para siswa yang meyakini kerangka kerja tujuan kinerja (teori entitas) sangat mendukung statemen bahwa jika harus bekerja keras dalam sesuatu, maka itu artinya kita memang tidak ahli dalam hal itu. Kalau memang ahli dalam sesuatu itu, kita sepatutnya tidak membutuhkan upaya. Jadi, kelompok siswa ini sangat percaya bahwa dalam tugas-tugas yang sulit sekalipun kita tidak perlu mengerahkan usaha keras jika memang memiliki kemampuan yang nyata.

Sebaliknya, siswa teori inkremental sangat tidak setuju dengan apa yang diyakini siswa teori entitas. Mereka memandang upaya bukan berarti seseorang memiliki kemampuan atau kecerdasan yang rendah. Bagi mereka, orang-orang yang jenius pun membutuhkan upaya. 

Catatan Penutup

Kita telah mengenal berbagai teori kecerdasan. Dari banyak teori itu, barangkali yang paling sepuh adalah teori kecerdasan yang dikemukakan Alfred Binet. Tokoh yang dikenal sebagai penemu teori IQ ini punya kontribusi penting dalam menciptakan tes IQ yang dipakai hingga kini. Namun kebanyakan orang salah paham dengan tes ini. Alih-alih dimaksudkan untuk menilai entitas tetap seorang anak, tes ini sebenarnya dirancang untuk mengidentifikasi anak-anak yang tidak sejahtera di sekolah-sekolah umum yang ada di Paris. Sejatinya ia ingin menciptakan sebuah program yang dapat mengembalikan mereka ke kondisi normal sekaligus membantu mereka berkembang secara intelektual. Ia sama sekali tidak berasumsi bahwa anak-anak tersebut telah hancur secara permanen. Sebaliknya ia mempercayai bahwa kecerdasan mereka dapat dipupuk melalui serangkaian program pendidikan yang tepat. Binet, simpul Dweck, adalah seorang ahli yang menyatakan secara resmi bahwa ia mempercayai teori inkremental, bukan teori entitas.





Share:

0 comments:

Posting Komentar

neracabuku.blogspot.com